Verified Original
وَأما الِاجْتِهَاد فَهُوَ بذل الوسع فِي بُلُوغ الْغَرَض فالمجتهد إِن كَانَ كَامِل الْآلَة فِي الِاجْتِهَاد فِي الْفُرُوع فَأصَاب فَلهُ أَجْرَانِ وَإِن اجْتهد وَأَخْطَأ فَلهُ أجر وَاحِد وَمِنْهُم من قَالَ كل مُجْتَهد فِي الْفُرُوع مُصِيب وَلَا يجوز كل مُجْتَهد فِي الْأُصُول الكلامية مُصِيب لِأَن ذَلِك يُؤَدِّي إِلَى تصويب أهل الضَّلَالَة وَالْمَجُوس وَالْكفَّار والملحدين ٣ وَدَلِيل من قَالَ لَيْسَ كل مُجْتَهد فِي الْفُرُوع مصيبا قَوْله ﷺ من اجْتهد وَأصَاب فَلهُ أَجْرَانِ وَمن اجْتهد وَأَخْطَأ فَلهُ أجر وَاحِد وَوجه الدَّلِيل أَن النَّبِي ﷺ خطأ الْمُجْتَهد تَارَة وَصَوَّبَهُ أُخْرَى
Adapun ijtihad, maka ia adalah mengerahkan segala kemampuan untuk mencapai suatu tujuan (kebenaran syariat). Maka seorang mujtahid: jika ia telah menyempurnakan perangkat-perangkat dalam berijtihad di bidang furu' (cabang agama), lalu ia benar, maka baginya dua pahala. Dan jika ia berijtihad lalu ia salah, maka baginya satu pahala. Dan di antara mereka ada yang berkata: setiap mujtahid dalam bidang furu' adalah benar (musyib). Dan tidak boleh dikatakan bahwa setiap mujtahid dalam usul ilmu kalam (akidah/teologi) adalah benar, karena hal tersebut akan berujung pada pembenaran terhadap para ahli kesesatan, penganut Majusi, orang-orang kafir, dan orang-orang ateis (mulhidin). Dan dalil bagi orang yang berpendapat bahwa tidak setiap mujtahid di bidang furu' itu benar adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Barang siapa berijtihad lalu ia benar, maka baginya dua pahala, dan barang siapa berijtihad lalu ia salah, maka baginya satu pahala." Dan titik dalilnya adalah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terkadang menyalahkan mujtahid dan di saat lain membenarkannya.