Kitab Kuning

• شروط صحة المسلم فيه

Verified Original
شروط صحة المُسلم فيه
Syarat-Syarat Kesahihan Barang Pesanan (Muslam fih)
Verified Original
(ثم لصحة المُسلَم فيه ثمانية شرائط). وفي بعض النسخ «ويصح السلم بثمانية شرائط»: الأول مذكور في قول المصنف: (وهو أن يصفه بعدَ ذِكر جنسه ونوعه بالصفات التي يختلف بها الثمن)، فيذكر في السلَم في رقيقٍ مثلا نوعَه كتُركي أو هندي، وذُكورتَه أو أُنوثتَه، وسِنَّه تقريبا، وقَدَّه طولا أو قصرا أو رَبْعةً، ولونَه كأبيضَ، ويصف ببياضه بسمرة أو شقرة؛ ويذكر في الإبل والبقر والغنم والخيلِ والبغالِ والحمير الذكورةَ والأنوثة والسنَّ واللون والنوعَ؛ ويذكر في الطير النوعَ والصغر والكبر والذكورةَ والأنوثةَ والسن إن عُرف؛ ويذكر في الثوب الجنسَ كقطن أو كتان أو حريرٍ، والنوعَ كقطن عراقي، والطولَ والعَرض والغِلظة والدقةَ والصفاقة والرقة والنعومة والخشونة. ويقاس بهذه الصوَر غيرُها. ومطلق السلم في الثوب يحمل على الخام، لا على المقصور. (و) الثاني (أن يذكر قدره بما ينفي الجهالة عنه)، أي أن يكون المسلم فيه معلومَ القدر كيلاً في مكيل، ووزنا في موزون، وعدًّا في معدود، وذرعا في مذروع. والثالث مذكور في قول المصنف: (وإن كان) السلم (مؤجلاً ذكر) العاقد (وقتَ محله) أي الأجل كشهر كذا؛ فلو أجل السلم بقدوم زيد مثلا لم يصح. (و) الرابع (أن يكون) المسلم فيه (موجودا عند الاستحقاق في الغالب) أي استحقاق تسليم المسلم فيه. فلو أسلم فيما لا يوجد عند المحل كرطب في الشتاء لم يصح. (و) الخامس (أن يذكر موضع قبضه)، أي محل التسليم إن كان الموضع لا يصلح له أو صلح له، ولكن لحمله إلى موضع التسليم مؤنةٌ. (و) السادس (أن يكون الثمن معلوما) بالقدر أو بالرؤية له. (و) السابع (أن يتقابضا) أي المُسلِم والمُسلَم إليه في مجلس العقد (قبل التفرق)؛ فلو تفرقا قبل قبض رأس المال بطل العقد، أو بعد قبض بعضه ففيه خلاف تفريق الصفقة. والمعتبر القبض الحقيقي. فلو أحال المسلِم برأس مال السلم وقبضَه المُحتالُ، وهو المسلم إليه من المُحال عليه في المجلس لم يكفِ. (و) الثامن (أن يكون عقدُ السلم ناجزا لا يدخله خيار الشرط)، بخلاف خيار المجلس فإنه يدخله.
(Kemudian, untuk keabsahan barang pesanan/muslam fih, dibutuhkan delapan syarat). Dan pada sebagian naskah tertulis dengan redaksi 'Dan akad salam menjadi sah dengan (terpenuhinya) delapan syarat': Syarat pertama disebutkan dalam ucapan Mushannif: (Yaitu hendaknya ia mendeskripsikan barang pesanan tersebut setelah menyebutkan jenis dan ragamnya, dengan menyebutkan sifat-sifat yang dapat membuat harganya bervariasi/berbeda), maka sebagai contoh, dalam pemesanan hamba sahaya ia harus menyebutkan ras asalnya seperti berasal dari Turki atau India, jenis kelaminnya apakah jantan atau betina, memperkirakan usianya secara taksiran, menyebutkan perawakan tubuhnya apakah tinggi, pendek, atau sedang, menyebutkan warna kulitnya seperti putih, dan ia merinci lebih spesifik (tingkat) keputihannya apakah bercampur sawo matang atau kuning langsat. Dan dalam pemesanan unta, sapi, kambing, kuda, bighal (bagal), serta keledai, ia harus menyebutkan jenis kelamin, usia, warna, dan rasnya; dan dalam pemesanan burung, ia menyebutkan jenis/spesiesnya, besar/kecilnya, jantan/betinanya, serta usianya jika dapat diketahui. Dan dalam pemesanan kain, ia menyebutkan jenis bahannya seperti katun, linen, atau sutra, ragamnya seperti katun Irak, serta ukuran panjang dan lebarnya, ketebalan atau ketipisannya, kerapatan tenunan atau kerenggangannya, serta kehalusan atau kekasarannya. Dan contoh-contoh lain dapat dianalogikan dengan bentuk-bentuk tersebut. Dan penyebutan kain secara mutlak dalam akad salam dialamatkan (diarahkan) kepada kain yang masih mentah (kham/belum diwarnai/diputihkan), bukan kain yang sudah dicuci/diputihkan. (Dan) syarat yang kedua (hendaknya ia menyebutkan ukurannya/kadar takarannya dengan sesuatu yang dapat menghilangkan unsur ketidakjelasan padanya), yakni barang pesanan tersebut harus diketahui ukuran pastinya menggunakan takaran volume (kail) untuk barang yang ditakar, takaran berat (wazan) untuk barang yang ditimbang, jumlah angka (hitungan/adad) untuk barang yang dihitung, dan ukuran panjang (dzira') untuk barang yang diukur (meteran). Dan syarat yang ketiga disebutkan dalam ucapan Mushannif: (Dan apabila) akad salam itu (bersifat tangguh/jatuh tempo, maka pihak yang berakad harus menyebutkan waktu penyelesaiannya) yakni batas waktu jatuh temponya seperti 'di bulan anu'; maka seandainya tempo akad salam dikaitkan dengan tibanya kepulangan si Zaid, misalnya, maka akadnya tidak sah. (Dan) syarat yang keempat (hendaknya) barang pesanan tersebut (sudah jamak ditemukan wujudnya di pasaran pada saat jatuh tempo penyerahan) yakni saat tiba hak untuk menyerahkan pesanan tersebut. Maka seandainya ia memesan suatu barang yang tidak akan ditemukan keberadaannya pada saat jatuh tempo, seperti memesan ruthab (kurma basah yang manis) yang ditargetkan (diantar) pada musim dingin, maka akad tersebut tidak sah. (Dan) syarat yang kelima (hendaknya ia menyebutkan tempat penyerahan barang), yakni lokasi serah terima jika tempat dilangsungkannya akad tidak layak untuk penyerahan barang tersebut, atau tempat tersebut layak namun membutuhkan biaya/ongkos angkut tambahan untuk memindahkan barang ke lokasi penyerahan. (Dan) syarat yang keenam (harga/modal pemesanan harus diketahui) baik takarannya maupun fisiknya jika ia diperlihatkan. (Dan) syarat yang ketujuh (kedua belah pihak saling menyerahterimakan) yakni al-muslim (pemesan) dan muslam ilaih (pihak yang dipesan) harus menyerahkan (dan menerima) modal uangnya di dalam majelis akad (sebelum mereka berdua berpisah); maka seandainya keduanya berpisah sebelum pemesan menyerahkan seluruh modal pembayarannya (ras al-mal), akad tersebut batal, atau jika berpisah sesudah diserahkannya sebagian (uang), maka di dalamnya terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum 'memecah kesepakatan' (tafriq ash-shafqah). Dan yang diakui secara sah adalah penyerahan uang secara fisik/nyata (qabdh haqiqi). Maka seandainya sang pemesan (muslim) mengalihkan (hawalah) utang pembayaran uang muka salam (kepada pihak ketiga), lalu pihak penerima pengalihan tagihan (muhtal)—yakni muslam ilaih/penjual—menerimanya dari orang yang menanggung pengalihan utang tersebut (muhal alaih) di dalam majelis, maka hal itu tidak memadai/tidak sah. (Dan) syarat yang kedelapan (akad salam harus bersifat pasti/najiz yang tidak dimasuki oleh khiyar syarat), hal ini berbeda dengan khiyar majelis, di mana (khiyar majelis) masih diperbolehkan untuk memasukinya.