Verified Original
﴿فصل﴾ في بيان أحكام الظهار. وهو لغةً مأخوذ من الظَهر، وشرعًا تشبيه الزوج زوجتَه غير البائن بأنثى لم تكن حِلاًّ له. (والظهار أن يقول الرجل لزوجته: «أنتِ عليَّ كظهر أمي»). وخص الظهر دون البطن مثلا، لأن الظهر موضع الركوب، والزوجة مركوب الزوج. (فإذا قال لها ذلك) أي أنتِ عليَّ كظهر أمي، (ولم يتبعه بالطلاق صار عائدا) من زوجته، (ولزمته) حينئذ (الكفَّارة) وهي مُرَتَّبةٌ. وذكر المصنف بيانَ ترتيبها في قوله:
(Pasal) dalam menjabarkan aturan-aturan mengenai Zhihar. Secara etimologi ia merupakan kata serapan (musytaq) dari bentukan kata punggung (Azh-Zhahr); sedangkan pengertian syariatnya yakni: Sebuah ucapan pengibaratan keserupaan/penyamaan (Tasybih) oleh seorang suami (yang melontarkan) tentang tubuh istrinya yang bukan berstatus talak ba'in dengan (bagian punggung) perempuan mana pun yang hukum asalnya (haram (bukan wanita halal)) bagi (sang) suami itu (untuk dinikahi). (Dan bentuk rupa konkret ucapan Zhihar ialah dikala suami berujaran lantang (kepada istrinya): 'Dirimu ini atasku (kedudukannya kini) sudah persis punggung ibuku'.) Dan di sana (suami) menyertakan pemisalan kata spesifik berupa (bagian punggung) istri, bukan umpamanya menyamakan perut dan yang lainnya, hal ini disebabkan bahwasanya (simbol) area punggung merupakan pusat landasan tempat duduk penunggangan/mengendarai (sebagaimana keledai dsb), sebagaimana wujud kedudukan/kehormatan seorang istri yang menjadi titik wahana (kenikmatan/unggangan) bagi suami. (Maka dari itu dikala suami melafalkan sumpah demikian itu padanya) yakni 'dirimu bagiku macam rupa punggung ibuku (terlarang)', (Namun ia tak mengiringi omongannya itu dengan lafaz (menjatuhkan) cerai, maka secara tegas (hukum menetapkan) suami ini dianggap kembali dari janjinya ('A-idun)) atas sang istri, (Lalu dijatuhi kelaziman wajib membayar) pada saat itu juga sebuah tuntutan (Kafarat penebus denda (dosa)) yang tata cara penunaiannya amat bertahap mutlak. Dan demi memperjelas alur hierarkinya tersebut Mushannif menerangkan tata cara kafarat zhihar melalui (bait matannya):
Verified Original
(والكفارة عتق رقبة مؤمنة) مسلمة ولو بإسلام أحد أبويها (سليمة من العيوب المضرة بالعمل والكسب) إضرارا بيِّنا، (فإن لم يجد) المُظاهر الرقبة المذكورة، بأن عجز عنها حسا أو شرعا (فصيام شهرين متتابعين). ويعتبر الشهران بالهلال، ولو نقص كل منهما عن ثلاثين يوما. ويكون صومهما بنية الكفارة من الليل. ولا يشترط نية تتابع في الأصح، (فإن لم يستطع) المظاهر صوم الشهرين أو لم يستطع تتابعها (فإطعام ستين مسكينا) أو فقيرا؛ (كل مسكين) أو فقير (مدّ) من جنس الحَبِّ المخرَج في زكاة الفطر؛ وحينئذ فيكون من غالب قوت بلد المُكفِّر كبُرٍّ وشعير، لا دقيق وسويق. وإذا عجز المكفر عن الخصال الثلاث استقرت الكفارة في ذمته. فإذا قدر بعد ذلك على خصلة فعلها، ولو قدر على بعضها كمُد طعام أو بعض مد أخرجه. (ولا يحل للمظاهر وطؤها) أي زوجته التي ظَاهَر منها (حتى يُكفّر) بالكفارة المذكورة.
(Dan bentuk penunaian tebusan (kafarat)-nya (harus dengan) memerdekakan murni sebiji jiwa budak beriman) beragama muslim kendatipun status pemeluk islam si budak baru didapat dari satu jalur orang tuanya (Dan yang mesti mumpuni (bugar) sepi terhindar dari seluruh (kerusakan) cacat raga/penyakit yang merecoki keoptimalan (dalam) bekerjanya serta usaha mata pencahariannya) secara kerugian yang nyata, (Maka andaikan si penzhihar kesulitan mendapatkannya) kesulitan (menebus) budak yang dijabarkan tersebut entah dengan kendala keterbatasan fisik (benda nyatanya tak ada) ataupun menurut batas wajar syariat, (Maka urutan keduanya adalah diwajibkan puasa berurutan utuh (non setop) selama putaran dua bulan (Bulan Arab)). Di sini dikalkulasikan berdasar putaran (Bulan Hilal/kamariah) sekalipun dari jumlah keduanya (tiap bulan) susut/kurang mencapai angka (purna) 30 hari kalender. Dan pelaksanaan ibadah puasa harus diniatkan secara mengkhusus semata hanya (untuk menambal Kafarat dosa) dari malam harinya. Dan sesungguhnya niatan wajib harus terus bersambung utuh dua bulan penuh itu sama sekali tidak diwajibkan berdasarkan argumen Al-Ashah. (Namun jika (kembali lagi sang penzhihar tak lagi mampu) menyanggupi berpuasa atau pun (tidak mampu menjamin rentetannya berurutan) (Maka alternatif urutan (terakhir) yaitu membagikan subsidi (makan/pangan)) (kepada jumlah kepala (Miskin) atau (penerima setara Fakir); (Di mana bagi tiap-tiap satu individu miskin) /fakir tersebut (dijatahi bobot takaran) (Sebanyak Satu Mud (beras) bahan olahan dari biji (Mentah) yang umumnya dijadikan patokan distribusi penyaluran ibadah Zakat fitrah di tempat itu); Maka otomatis di saat kondisi penyalurannya seperti itu bahan makanan (penggantinya) pun mengikuti (bahan (sumber) penganan karbohidrat) andalan suatu kawasan si pembayar Kafarat semacam gandum giling kasaran/jewawut (ataupun beras), bukannya makanan serbuk / roti adonan murni instan siap suap. Namun ketika dihadapkan fenomena si pentobat penzina menemui kebuntuan parah atas tiga hierarki solusi tebusan tersebut (maka wajib baginya menanggung tanggungan Kafaratnya dipundaknya). Makanya bila suatu saat nanti pintu rezekinya kebuka (dia kembali berdaya) wajib baginya (menunaikan) sebagian dari opsi-opsi yang sanggup dilakoninya sekalipun secuil umpamanya (mencukupi donasi) 1 buah mud pakan harian atau cipratannya (saja). (Lantas Haram (Dilarang keras) bagi sang Penzhihar) dan ini yang terpenting untuk menindih (kembali) untuk (meniduri/menggaulinya) istrinya yang sebelumnya dia sumpah Zhihar (tersebut) (hInggalah dia (benar-benar) sukses membayar denda (kafarat)) pada denda yang disebut.